Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Indonesia
berakar dari sekolah kejuruan zaman Belanda (seperti Ambachts School tahun 1853) dan berkembang pesat setelah kemerdekaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga teknis. Nomenklatur SMK secara resmi diseragamkan pada tahun 1997 untuk menyatukan berbagai sekolah teknik (STM) dan kejuruan (SMEA/SKKA) dengan fokus pada kesiapan kerja.
Berikut adalah poin-poin penting sejarah perkembangan SMK di Indonesia:
Zaman Kolonial Belanda (1853-1940-an):Pendidikan vokasi pertama berdiri, yaitu Ambachts School (Sekolah Pertukangan) di Surabaya (1853) dan Jakarta (1856). Fokus utamanya untuk memenuhi kebutuhan teknisi industri Belanda.
Zaman Kemerdekaan (1950-1960-an):Pemerintah Indonesia mengembangkan Sekolah Teknik (ST) dan Sekolah Teknik Menengah (STM) untuk mencetak tenaga ahli yang dibutuhkan untuk pembangunan nasional.
Masa Orde Baru (1970-1990-an): Berbagai jenis sekolah kejuruan tumbuh, seperti SMEA (Ekonomi), SMKK (Kesejahteraan Keluarga), dan SMT (Pertanian). Pada kurikulum 1994, mulai dikembangkan konsep Pendidikan Sistem Ganda (PSG) untuk menghubungkan sekolah dengan industri.
Perubahan Menjadi SMK (1997): Melalui Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 036/0/1997, berbagai jenis sekolah kejuruan disatukan nomenklaturnya menjadi SMK (Sekolah Menengah Kejuruan).
Era Modern (2000-sekarang): SMK tumbuh pesat, dengan penekanan pada slogan "SMK Bisa". Fokus saat ini adalah revitalisasi SMK (Inpres No. 9 Tahun 2016) agar lulusan lebih link and matchdengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Tujuan utama SMK dari awal berdiri hingga sekarang adalah mempersiapkan siswa agar memiliki keahlian dan kompetensi kerja spesifik, sehingga siap langsung terjun ke dunia industri.